Pertanda Misteri Dari Alam Akan Terjadinya Sebuah Peristiwa
Malam ini terasa lebih panas dan kering dibandingkan hari biasanya,aroma debu lumayan tercium dari hamparan sawah,lebih tepat disebut tanah kosong yang mengapit jalan yang saya lalui. Bila siang hari sawah ini akan terlihat dipenuhi rumput liar yang mulai mengering. Sawah tersebut tampaknya dibiarkan tak terurus oleh pemiliknya sebab di sekelilingnya sudah dikepung oleh bangunan yang permanen sebagai tempat tinggal penduduk juga sebagai kos-kosan.
Waktu menunjukkan pukul 22.15 wita saya menapaki jalanan beraspal ini seorang diri dengan
berjalan kaki. Jalanan ini sangat lenggang sebab bila malam hari jarang sekali
ada kendaraan yang melintasinya .
Saya baru saja pulang dari tempat kosan teman. Sejak tadi
sore saya menghabiskan waktu untuk berbincang dengannya. Dia adalah teman
sekelas di SMA,dan paling akrab dengan saya dibandingkan dengan teman-teman
saya yang lain. Teman saya memang kos di wilayah ini,sedangkan kosan saya jauhnya kurang lebih dua kilo meter jaraknya dari
kosan teman saya.
Dalam perjalanan pulang sesekali saya menengadah melihat
langit malam yang bertabur bintang. Malam ini langit tampak sangat bersih
tampa seberkas awanpun . Saya melihat sepotong bulan hampir tenggelam di langit
barat lebih tepatnya seperti tersangkut di antara ranting dan daun pepohonan. Persis
di atas wilayah dimana kosan saya berada. Entah kenapa bulan itu terlihat aneh dari biasanya. Bukan
mata saya yang melihatnya aneh tapi hati saya yang merasakannya. Perasaan saya
menjadi gusar hingga hati saya menjadi
tidak menentu. Disetiap langkah kaki ini selalu saja saya ingin melihatnya lagi
dan oh,bulan itu seolah memang sedang memperhatikan saya,kali ini dia tampak
lebih kelam namun seolah teraniaya dan menghiba hingga membiaskan nuansa yang mencekam.
Batin saya berbisik akan ada apakah gerangan?
Kurang lebih tiga puluh menit lamanya sampailah di kosan
saya,sukurlah tidak terjadi apa-apa disepanjang perjalanan pikir saya. Mudah-mudahan
tidak akan terjadi apa-apa.
Sebelum masuk ke kamar tidur, saya mencuci kaki dan membasuh
muka terlebih dahulu di kamar mandi. Tetangga kos saya mungkin sedang pulang
kampung sebab tidak seperti biasanya jam segini sudah tidur,terlihat lampu
kamarnya sudah padam.
Saya beranjak ke tempat tidur namun hati ini masih merasa gusar
entah apa sebabnya, saya bangkit dari tempat tidur lalu duduk di depan meja
belajar sambil membolak-balikan buku namun sama sekali tak punya selera untuk
membacanya. Sayapun kembali rebahan di tempat tidur pikiran menerawang jauh
menembus kesunyian malam. Entah berapa
lama saya gelisah belum bisa memejamkan mata akhirnya sayapun tertidur.
Lama tertidur tiba-tiba saya tejaga karena dikagetkan oleh
suara gaduh dari jalan berdebu di samping kosan saya. Kamar saya berada dekat
dengan jalan tanah. Saya bangkit dan keluar kamar untuk melihatnya. Banyak
orang berlarian sambil berteriak-teriak. Saya keluar mengikuti kemana arah
mereka pergi.
Saya berjalan mengikuti mereka dan berhenti di kerumunan ibu-ibu dan remaja seperti saya. Dari obrolan mereka saya mendengar kalau ada maling yang ditangkap warga. Saya lihat jalan ini disesaki orang hingga saya tidak dapat melihat apa-apa selain punggung-punggung mereka. Sesekali saya mendengar pekikan seorang wanita saat seperti sebuah benda dipukulkan dan saat yang sama terdengar erangan kesakitan mungkin itu suara malingnya. Ada sorakan warga saat seperti ada yang diseret di atas aspal.
Saya mencari tempat yang lebih tinggi tapi tetap saja saya
hanya dapat melihat punggung mereka dan wajah-wajah yang garang. Semakin lama masa semakin banyak yang
berdatangan dan aura beringas dan mencekam sangat terasa. Walaupun berjarak 15 meter saya dapat mencium
aroma luka yang berbaur dengan debu jalan.
Tempat kejadian berada dekat dengan perempatan jalan,satu
jalan beraspal dan satunya lagi jalan desa
yang belum beraspal. Jarak antara tempat kos saya dengan tempat kejadian
kurang lebih 50 meter ,jadi cukup dekat.
Subuh semakin mendekati pagi waktu sudah menunjukan
pukul 04.20 wita akhirnya masa bubar saya
kurang paham kenapa masa tiba-tiba bubar entah polisi datang. Sayapun buru-buru
kembali ke kos dengan perasaan bercampur aduk,jadi inikah jawaban dari
kegusaran saya semalam?
Karena hari sudah pagi saya mandi lalu berangkat ke sekolah
dengan berjalan kaki. Untuk sampai ke sekolah saya harus melewati jalan tempat
kejadian tadi. Jalanan tempat kejadian tadi tampak sepi dan saya berjalan
seorang diri. Di tempat kejadian saya masih dapat melihat genangan darah di atas
aspal walaupun beberapa bagiannya sudah ditimbun dengan pasir atau tanah. Aroma
darah sangat menyengat,saya lihat seorang lelaki kurus berkulit sawo matang
tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan telanjang tampa selelai pakaian. Tubuhnya
berlumur darah, sebagian tubuhnya ditutupi selembar tikar pandan. Saya minggir
dan berjalan agak ke tengah sambil mengucapkan permisi.
Di sekolah saya tidak bisa kosentrasi,teringat dengan
peristiwa tadi subuh dan terbayang tubuh yang tergeletak di pinggir jalan
tersebut. Hati saya sangat terenyuh miris, saya jadi kurang paham perbedaan
mana yang protagonist dan mana yang antagonis. Mungkin keadaanlah yang
menempatan perbedaan itu hingga sulit saya pahami. Inilah sisi gelap Manusia
yang membingungkan. Akhirnya peristiwa itu berbuntut hukum,karena peristiwa
tersebut sudah dalam penanganan pihak yang berwajib.
Pembaca yang budiman terkadang alam memberi kita pertanda
tentang sesuatu hal yang akan terjadi
namun kadang kita tak mampu untuk menterjemahkannya sehingga kita tak bisa
untuk memahaminya. Terlebih tidak semua orang dapat merasakan pertanda itu
walaupun mereka melihatnya. Yang
membedakannya adalah kepekaan masing-masing indipidu dalam membaca gejala atau pertanda
alam tersebut.
Pembaca yang budiman,kisah di atas adalah peristiwa yang
terjadi sudah lama sekali,saya lupa bulan dan tahunnya, kalau tak salah antara
bulan September-Oktober pada tahun 1992. Ketika itu saya masih sekolah di sebuah
daerah seni yang banyak dikunjungi turis manca negara.
Pembaca yang budiman seperti yang saya sampaikan bahwa
terkadang alam memberikan suatu gejala atau pertanda kepada kita akan sesuatu yang
mungkin akan terjadi tinggal sejauh mana kepekaan kita menangkap tanda-tanda
tersebut. Seperti yang saya sampaikan bahwa tidak semua orang punya kepekaan
seperti itu. Juga tidak setiap saat manusia diberikan kepekaan untuk membaca
pertanda alam tersebut,seperti kisah saya yang kedua ini. Kejadiannya juga di
tempat kos tetapi di daerah yang berbeda.
Ketika itu sekitar tahun 1996 siang menjelang sore,di sebuah
warung depan kosan saya. Saya duduk sedang makan “ketipat cantok” sambil ngobrol dengan bapak penjaga
warung,kebetulan ibu warung yang biasa berjualan sedang mengerjakan sesuatu di
rumahnya. Saya terbiasa setiap sore suka duduk-duduk di warung ini sambil
memesan sesuatu yang bisa dimakan,kalau tidak ketipat cantok yah, es gula atau
juga cuma membeli cemilan kecil. Lega
rasanya duduk-duduk disini, sebab di depan warung yang berhadapan dengan kosan
saya adalah lahan kosong yang lumayan
lapang yang sekaligus menjadi jalan keluar masuk warung,masuk rumah warga dan jalan
keluar masuk kosan saya. Di atas tanah lapang tersebut beberapa pohon kelapa tumbuh tinggi.
Setelah menghabiskan tipat cantok saya memesan es gula,baru
diminum setengah secara tidak sengaja mata saya memandang langit timur di atas
kosan saya. Langit sebenarnya sedang mendung akan tetapi saya melihat mendung
itu kok terbagi dua,persis seperti langit yang terbelah. Pembaca yang budiman pernahkah pembaca
melihat jejak pesawat di langit yang
berupa asap memanjang? Nah seperti itulah akan tetapi ini langit berwarna
kelabu karena mendung kemudian terbelah oleh warna biru memanjang mirip jejak
pesawat yang saya sebutkan. Maaf saya kasih istilah langit terbelah saja ya
pembaca sebab belahannya benar-benar lurus dan panjang.
Saya berseru menunjuk langit hingga bapak warung ikut
melihatnya. Langit yang terbelah itu tepat berada di atas kamar sebelah atau di
atas kamar tetangga kos saya. Lalu saya berkata kepada bapak penjaga warung,”apakah
bapak juga melihat phenomena alam di
langit yang saya tunjuk tadi?” Bapak itu cuma menggangguk,sambil membereskan
piring bekas tipat cantok yang saya makan tadi. “Apakah itu tidak aneh,pak?” Tanya
saya lagi sambil melihat raut wajahnya yang datar tampa ekspresi. Malah bapak
itu meledek saya ketika saya bilang “aneh” dalam Bahasa Indonesia malah
ditanggapi “aneh” dalam Bahasa Bali. Tentu saja itu mengandung arti yang jauh berbeda.
Itulah contohnya pembaca apa yang kita
lihat dan rasakan aneh atau ganjil belum
tentu orang lain melihat atau merasakan hal yang sama dengan kita. Seperti yang
saya sebutkan di atas bahwa kepekaan individulah yang membedakannya.
Seperti biasa perasaan saya tidak menentu,saya yakin akan ada
sesuatu entah apa. Sudahlah,mungkin ini perasaan saya saja,pikir saya kala itu.
Dan malamnyapun berjalan biasa saja,diisi dengan ngobrol dengan tetangga,
nonton tv setelah itu tidur,dan tidak ada yang terjadi sepanjang itu.
Hari menjelang subuh,seluruh penghuni kos berhamburan keluar
kamar setelah mendengar teriakan dan
tangisan yang menjerit-jerit dari kamar sebelah. Istri tetangga saya menangis
sejadi-jadinya mendapati anaknya yang baru beberapa hari lahir (Tabe Pakulun) sudah tidak ….. Maaf
pembaca saya tidak tega untuk menceritakannya lagi.
Mungkin langit yang saya lihat seolah-olah terbelah tepat di
atas kamar wanita malang ini merupakan sebuah pertanda misteri dari alam akan terjadinya sebuah peristiwa atau musibah
tersebut.
“Oh Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kami dijauhkan dari musibah
dan petaka. “ Pembaca yang budiman, saya yakin diantara pembaca banyak yang
punya kepekaan untuk membaca tanda alam mungkin lebih, tapi saya tetap yakin
kepekaan itu tidak datang setiap saat tapi disaat tertentu saja maka ia akan
datang dengan sendirinya tampa kita minta karena itu merupakan misteri dari
alam. Teruslah menghargai dan menghormati alam dan tempatkan alam itu pada
tempat yang semestinya, karena bagaimanapun juga kita hidup dari alam ini.
Demikianlah pembaca pengalaman yang pernah saya alami. Semoga
kisah ini bermanfaat untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya. Trimakasih
sudah meluangkan waktu untuk membacanya.
Salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar