Ada Yang Melihat Roh Ayah Mertua Yang Sudah Meninggal

                Awalnya saya sangat skeptis kalau mendengar ada orang yang bisa melihat roh atau  mahluk halus dari alam lain ataupun ada orang yang tahu tempat-tempat yang ada penunggunya. Saya sangat tidak percaya itu dan menganggap orang itu mengada-ada dan sekedar mencari sensasi. Apalagi jika ada acara talk show di sebuah tv saya akan mengalihkan canel ke stasiun tv yang lain. Namun seiring berjalannya waktu rasa tidak percaya itu justru menjadi kebalikannya. Rasa ketidak percayaan itupun  semakin hari semakin terkikis. Kenapa demikian karena seiring berjalannya waktu justru saya sering melihat dan merasakan hal-hal yang mustahil  di sekitar saya,baik yang saya alami sendiri,dialami oleh keluarga maupun cerita dari orang lain. Akhirnya saya percaya bahwa memang ada orang yang punya bakat atau punya kemampuan untuk melihat hal-hal semacam itu,seperti pengalaman di bawah ini.
                Pada tahun 2016 mertua saya yang laki-laki berpulang ke alam baka karena sudah tua dan sakit-sakitan. Beberapa hari setelah kepergiannya,anak perempuannya yang sulung (ipar saya) pulang kampung untuk merayakan Galungan. Ipar saya itu bernama Ni Wayan. Namun karena kepergian mertua saya berdekatan dengan rangkaian Hari Raya Galungan, maka kami tidak bisa merayakan Galungan sebagaimana mestinya karena masih dalam suasana berkabung, dalam istilah Balinya cuntaka.
                Kedatangan Ni Wayan kali ini mengajak serta temannya yang berasal dari daerah Kupang NTT (Nusa Tenggara Timur). Temannya ini sedang kuliah disebuah perguruan tinggi di Denpasar. Berhubung kampusnya sedang libur Galungan sehingga temannya ini mempunyai waktu untuk menemani Ni Wayan pulang kampung. Teman Ni Wayan tidak sendirian, tetapi mengajak serta pacarnya, jadi kedatangan mereka bertiga.Teman ipar saya ini adalah keponakan dari pacar Ni Wayan, sehingga Ni Wayan dipanggilnya tante.
               Sehari setelah kedatangan Ni Wayan kami sekeluarga beserta teman Ni Wayan asik bercengkrama di ruang keluarga di rumah mertua.  Kemudian ibu mertua muncul dari dapur menyiapkan nasi dan lauk-pauk di atas selembar tikar,dan kamipun makan bersama-sama. Pada saat kami menikmati makanan ibu mertua bilang hendak membawa sodan (nasi lengkap dengan lauk-pauknya) untuk dihantarkan ke kkuburan untuk disuguhkan di atas pusara ayah mertua. Oh yah, Ayah mertua tidak dikeramasi seperti yang lazim dilakukan oleh Umat Hindu lainnya, karena pada saat beliau wafat bertepatan dengan upacara Karya Usaba Gede di Pura Bale Agung yang datangnya upacara tersebut setiap 10 tahun sekali.
                Sehabis makan bersama kami melanjutkan bincang-bincang lebih tepatnya diskusi di ruang keluarga membahas tentang rencana ke depan mengenai tata-cara upakara dan upacara  ayah mertua. Diskusi akhirnya ditangguhkan, dengan pertimbangan bahwa dalam membahas tentang pelaksanaan sebuah upacara keagamaan sangat perlu melibatkan orang yang faham tentang upacara (tata cara pelaksanaan ritual) dan upkaranya (sarana dan prasarananya). Diskusi itupun ditangguhkan untuk beberapa waktu yang belum ditentukan.
                Beberapa saat kemudian setelah diskusi itu berlangsung, ibu mertua mengajak Ni Wayan pergi ke kuburan untuk membawa sodan, sodan adalah suguhan yang berupa makanan dan minuman juga kebutuhan lainnya, yang diperuntukkan bagi orang yang sudah meninggal dalam hal ini almarhum Ayah Mertua. Dua orang temannya yang berasal dari NTT pun mohon ijin untuk ikut serta menemani mereka. Jadilah mereka pergi berlima yaitu ibu mertua,Ni Wayan, adik ipar laki-laki saya,dan dua teman Ni Wayan.
                Sepulang dari membawa sodan, mereka duduk-duduk di ruang keluarga sambil bercakap-cakap. Dalam percakapan itu sepertinya teman Ni Wayan sedang  menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya kepada Ni Wayan, ibu mertua, adik ipar laki-laki dan istri saya. Saya hanya mendengar samar-samar jadi tidak cukup jelas mendengar apa yang diceritakan oleh teman Ni Wayan tersebut. Saya tidak ambil bagian dalam percakapan mereka,karena  lebih memilih bersenda gurau dengan anak-anak saya.
                Hari sudah sore saya bersama istri dan anak-anak saya  pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah istri saya menyampaikan apa yang diceritakan oleh temannya Ni Wayan. Saya mendengarkan ucapan istri saya dengan sungguh-sungguh kendatipun hati saya diliputi penuh keraguan akan kebenaran cerita yang disampaikan oleh istri saya.
                Menurutnya,teman Ni Wayan mengatakan bahwa pada saat mereka sedang berkemas-kemas hendak membawa sodan menuju ke kuburan, dia melihat ada orang tua yang keluar dari kamar sebelah kiri yang mana kamar itu merupakan kamar tidur ayah mertua selama ini. Orang tua itu berjalan melewati kami yang sedang bercakap-cakap. Orang tua itu bergegas tampa sepatah katapun pergi keluar mendahului rombongan Ni Wayan yang akan membawa sodan . Teman Ni Wayan menyimpan itu dalam hati karena ia pikir memang ada orang tua yang tinggal di kamar tersebut. 
               Masih menurut penuturan teman Ni Wayan, setelah rombongan tiba di kuburan orang tua itu sudah duluan berada di sana. Ketika mereka sedang berjongkok menyuguhkan sodan itu di atas kubur ayah mertua,teman Ni Wayan melihat orang tua itu duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari tempat mereka berada. Dilihatnya orang tua tersebut tak lepas-lepas menatap wajah ibu mertua saya.
                Sebenarnya saya agak kurang yakin mendengar apa yang disampaikan oleh istri saya. Kemudian saya menyuruh istri untuk menanyakan kepada teman Ni Wayan mengenai bagaimana ciri-ciri orang tua tersebut dan pakaian apa yang dikenakannya. Dengan penuh semangat istri saya bergegas ke rumah mertua untuk menanyakannya. Beruntung Ni Wayan dan temannya belum balik ke Denpasar sehingga istri saya dapat menyampaikan maksudnya.
                Sepulang dari bertanya istri saya menyampaikan apa yang dikatakan oleh teman Ni Wayan mengenai ciri-ciri orang tua tersebut. Menurutnya bahwa orang tua tersebut menggunakan singlet putih dan celana pendek abu-abu. Saya tertegun untuk beberapa saat, ternyata apa yang disampaikan oleh teman Ni Wayan persis sama dengan ciri-ciri ayah mertua. Pada saat  meninggal di rumah sakit ayah mertua memang sedang memakai singlet putih dan celana pendek warna abu-abu.
                Apa yang dikatakan oleh teman Ni Wayan cukup menggetarkan hati saya untuk meyakininya. Sebab tidak mungkin dia mengada-ada,kalau mengada-ada dari mana dia tahu ciri-ciri ayah mertua dan pakaian saat terakhir dia hidup sebelum meningga? karena sebelumnya dia tidak tahu kondisi saat Ayah Mertua meninggal dan tidak tahu letak kamar ayah mertua akan tetapi dia menunjukannya dengan tepat kalau orang tua itu keluar dari kamar yang merupakan kamarnya almarhum. Jadi benar dia dapat melihat roh ayah mertua yang sudah meninggal. 
                Menurut ipar saya,bahwa temannya itu memang memiliki kelebihan atau kemampuan untuk melihat mahluk-mahluk halus,dan kemampuan itu adalah bakat langka yang dimilikinya sejak kecil.
                Sayang sekali saya lupa menanyakan nomor Hand Phonenya atau emailnya, karena banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepadanya. Mungkin suatu saat ia membaca postingan ini sehingga bisa mengimpormasikan nomor kontaknya.
                Pembaca yang budiman, dari cerita di atas ada dua pilihan yang bisa kita pilih yaitu percaya dan tidak percaya. Dan ada seribu alasan untuk itu. Bagi saya dari seribu alasan itu ada satu alasan untuk mempercayainya, yaitu kemahakuasaan Tuhan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, tidak ada yang mustahil di dunia ini.  
                Saya yakin ada orang-orang tertentu yang dianugrahi kemampuan untuk dapat melihat roh atau mahluk halus, dan itu tidak sembarang orang mempunyai bakat seperti itu. Hanya orang-orang melik, melik ini adalah istilah masyarakat Bali bagi orang yang istimewa karena tanda ditubuh dan hari kelahirannya yang dipercaya mempunyai aura mistis dan kekuatan gaib.
                Berdasarkan kepercayaan leluhur yang kami anut bahwasanya jiwa/roh tidak akan jauh dari tubuhnya. Walaupun sudah meninggal roh keluar dari tubuhnya tapi akan tetap berada di sekitar jasadnya. Kenapa enggan meninggalkannya,hal ini dikarenakan pengaruh Maya (sifat-sifat keduniawian) yang melekat pada tubuh. Jiwa/roh mesti ikut bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh tubuhnya.
                Dalam kepercayaan leluhur kami,agar roh tidak tergantung lagi,tidak terikat lagi dengan tubuhnya dan tidak lagi dalam pengaruh maya maka tubuh yang sudah mati mesti dikembalikan kepada unsur-unsur pembentuknya yang terdiri dari 5 unsur yang disebut dengan Panca Maha Bhuta yang terdiri dari : Pertiwi artinya unsur padat yaitu tulang-belulang, Apah artinya unsur cair yaitu cairan tubuh dan darah,Teja artinya unsur panas yaitu suhu tubuh, Bayu artinya unsur udara,Akasa adalah unsur kosong/ruang.
                 Kalau dikubur proses peleburannya sangat lama sehingga roh sangat lama berada di alam manusia,guna mempermudah proses peleburan unsur tersebut,maka tubuh yang penuh dosa disucikan dengan api suci yakni api pembasmian/kremasi.  Karena tubuhnya sudah berbentuk abu maka dengan demikian melapangkan jiwa atau roh pergi ke alam roh di sana sudah ditunggu oleh Pengadilan Roh atau Atma yaitu Yama Loka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. . Demikianlah kira-kira literasi yang pernah saya baca. Semoga postingan ini bermanfaat.
                Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan!

Komentar

Postingan Populer