Siapa yang Jahil Misteri di Perkemahan Pramuka
Matahari baru saja terbenam sementara kabut mulai turun membawa udara yang agak basah menyelimuti bumi perkemahan di halaman sebuah sekolah yang berlokasi di atas sebuah bukit Kubupangi. Seorang guru muda cantik turun dari sepeda motornya kemudian memasuki lapangan beserta anak perempuannya. Di halaman tempat perkemahan tersebut beberapa rekannya sudah menunggunya. Satu persatu rekannya menyalaminya. “Kirain tidak jadi datang!”seru seorang rekannya, sementara rekannya yang lain menghampiri putrinya,”halo,kelas berapa dik?” tanyanya. “Kelas tiga bu,” jawab anak kecil itu agak malu-malu. “Yang nomor berpa ini, bu kadek?” Tanya rekannya yang lain. “Masih yang nomor satu, pak.” Jawabnya sambil melambaikan tangan agar putrinya menghampirinya. Gadis kecil itu memeluk ibunya sementara ibunya mengusap-usap rambutnya. Rupanya ibu guru muda itu bernama Ibu kadek.
Ibu Kadek mengajak anaknya duduk di bangku, belakang meja
piket yang terletak di depan kantor
guru. Sementara rekan-rekannya masih berdiri terlibat dalam obrolan yang hangat.
Mereka adalah para guru muda yang mengajar di SMP Satu Atap,jadi di tempat
tersebut ada dua tingkatan sekolah yakni SD dan SMP dalam satu atap atau satu kepeminpinan,jadi
kepala sekolahnya kala itu satu orang.
Di depan mereka juga tampak beberpa rekan guru yang berdiri berkelompok-kelompok.
Mereka adalah kakak-kakak Pembina dari sekolah yang berbeda. Perkemahan kali
ini diikuti oleh lima SD dan satu SMP. Masing-masing sekolah mengirimkan dua
regu terdiri dari putra dan putri.
Malam merambat perlahan lampu-lampu sudah
dinyalakan sementara adik-adik peserta kemah terlihat sedang bersiap untuk
memasuki lapangan karena kegiatan yang sudah dijadwalkan akan segera dimulai. Tampak Ibu kadek juga ikut bersemangat
mengatur peserta agar segera memasuki lapangan perkemahan sebab seorang Pembina
sudah berdiri di lapangan sambil meniup peluit.Adik-adik penggalang berhamburan
memasuki lapangan berkumpul sesuai regunya,lalu melakukan kegiatan sesuai arahan
kakak Pembinanya.
Ibu kadek berdiri di pinggir lapangan bersama seorang
rekannya sementara anak gadisnya berdiri tak jauh darinya. Kabut semakin tebal dinginnya
semakin terasa, Ibu kadek merasa sedikit kedinginan jaketnya tak cukup mampu untuk menghangatkan tubuhnya,
sehingga ia harus menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Huu…dingin,”
gumamnya sembari lebih merapatkan kedua
tangan di depan dadanya.
Waktu berjalan tak terasa malam semakin larut, anak
perempuan Ibu Kadek sangat atusias melihat berbagai kegiatan yang dilakukan
oleh peserta Pramuka. Terlihat sekali ia sangat bahagia,karena baru kali ini ia
melihat kegiatan semacam itu,sehingga ini merupakan pengalaman yang baru
baginya. Dia mendekati masing-masing regu tersebut satu persatu. Bila regu itu
bernyanyi ia mengikutinya dalam hati dan ia akan ikut tertawa bila ada salah
seorang anggota regu yang bertingkaah
polah aneh atau lucu. Semakin lama gadis kecil itu semakin larut dalam kegiatan
itu walaupun sebagai penonton sehinga ibunya tidak diperdulikannya lagi. Melihat
anaknya gembira Ibu Kadek tidak ingin mengganggunya sehingga gadis kecil itu
dibiarkan melihat-lihat atau bermain sendiri, sementara ia dan rekannya pergi
ke ruang guru tampa sepengetahuan putrinya.
Beberapa saat kemudian secara tak sengaja putri Ibu kadek
melihat seolah-olah ibunya beserta salah seorang rekannya masuk ke dalam salah
satu ruang kelas, ketika pandangannya diarahkan ke tempat di mana ibunya tadi
berdiri ternyata ibu dan rekannya sudah
tidak ada di sana,sehingga ia sangat yakin kalau yang dilihatnya tadi memasuki ruang kelas adalah ibunya. Iapun berlari menuju ke arah ruang kelas tempat ibunya tadi masuk.
Sesampainya di sana ruang kelas yang dipungsikan sebagai tempat memasak
sementara itu ternyata pintunya tertutup dan lampunya juga tidak menyala. Gadis
kecil itu membuka pintu lalu masuk ke dalamnya.
Walaupun ruang kelas itu lampunya tidak dinyalakan tetapi ruangan itu tidak
begitu gelap karena lampu-lampu di luar masih dapat masuk melalui kaca-kaca
jendela kelas. Jadi gadis kecil tersebut masih dapat melihat ke sekeliling
ruangan dengan jelas. Akan tetapi ia tidak menjumpai siapapun di tempat itu.
Gadis kecil itu menjadi kebingungan,sebab sudah jelas-jelas ia melihat ibunya
masuk ke ruangan ini tapi kok di sana tidak ada siapa-siapa. Ia hanya melihat
kompor yang menyala tampa panci atau penggorengan pokoknya tampa suatu apapun
di atasnya . Melihat hal itu anak kecil ini menjadi takut ,ia keluar sambil
memanggil-manggil ibunya.
Gadis kecil itu mendapati ibunya di ruang guru bersama
rekan-rekannya. Gadis itupun bercerita tentang apa yang dilihatnya tadi.
Akhirnya ibu dan rekan-rekannya berinisiatif untuk memeriksa ruangan
tersebut. Tidak ada siapa-siapapun di
sana juga tidak ada kompor yang menyala. Gadis kecil itu bertambah bingung pada
hal tadi ia benar-benar melihat salah satu kompor di ruangan tersebut menyala. Mungkinkah ada
rekan guru yang lain telah mematikan kompor itu? Lalu siapa yang masuk ke dalam
ruangan tersebut? Mungkinkah orang lain
yang kebetulan terlihat mirip dengan ibunya? Lalu kemana perginya kok tidak ada
siapapun saat gadis itu masuk keruangan tersebut? Mungkinkah orang tersebut
lompat lewat jendela begitu tau ada anak kecil memasuki ruangan tersebut? Tapi
untuk apa?
Akhirnya lampu di ruang tersebut dinyalakan dan semua
menganggap bahwa itu mungkin hanya salah lihat atau salah paham. Dan yang lebih penting adik-adik peserta
kemah jangan sampai tahu masalah tersebut agar mereka tidak ketakutan,begitu
kata salah seorang guru kepada rekan-rekannya kala itu.
Singkat cerita malampun sudah larut, kegiatan malam itu
sudah selesai dan para peserta sudah kembali ke tendanya masing-masing. Ibu-ibu Pembina juga sudah ke posnya untuk
beristirahat sebab besok subuh mesti sudah bangun membantu para peserta di
dapur. Sementara Pembina laki-laki berjaga-jaga secara bergiliran.
Petugas jaga yang
mendapat giliran pertama terdiri dari enam orang guru yang mewakili sekolahnya
masing-masing. Tugas mereka adalah memastikan agar malam berjalan dengan sewajarnya
tampa gangguan apapun. Tak terasa waktu sudah tengah malam,seluruh
peserta tampaknya sudah tidur. Petugas
jaga berkeliling mengecek seluruh tenda peserta serta mengecek lingkungan di sekitar
tempat itu,setelah dirasa aman merekapun berkumpul kembali di lapangan yang
dikelilingi oleh tenda-tenda tersebut. Salah satu rekan petugas jaga membawa senampan kopi hangat
lengkap dengan kuenya,lumayan untuk mengusir rasa kantuk dan melawan dinginnya
malam.
Mereka berbincang dan bersenda gurau dengan suka cita, hanya
suara dan tawa mereka yang terdengar menembus kabut dan dinginnya malam. Namun
beberapa saat kemudian obrolan mereka terhenti sejenak oleh bunyi sepeda motor yang terdengar
berasal dari tempat parkir guru. “Sipa yang keluar,tuh? “ Tanya salah seorang
guru yang bernama Pak Nyoman kepada rekan-rekannya. “Keluar apa pulang?” sahut rekanya menimpali
ucapannya. “Sudah tengah malam begini berani pulang sendiri?” guru yang lain pun ikut menimpali. “Yah,biarkan
saja mungkin ada kepentingan yang mendesak.” Kata rekan lainnya. Dan mereka pun
tidak membahasnya lagi, karena mereka kembali hanyut ke dalam obrolan
sebelumnya. Lama-lama mereka merasa terusik juga karena yang bawa motor itu dari tadi kok belum pergi
juga. Karena dirasa sudah sangat lama belum berangkat juga,akhirnya salah satu guru
di antara mereka mengecek ke tempat
motor tersebut, khawatir mungkin saja orang yang akan pulang tersebut sedang mendapatkan
masalah. Sesampainya di tempat tersebut ia tidak mendapati siapapun di sana,hanya sepeda motor saja yang menyala. Ah,mungkin
orangnya sedang kebelet pipis pikirnya. Kemudian guru tersebut kembali ke
tempat rekan-rekannya ngumpul tadi, lalu menyampaikan apa yang dilihatnya.
Akhirnya mereka sepakat beramai-ramai mendatangi tempat itu untuk memastikannya. Sesampainya
di sana,mereka mengarahkan pandangan ke
sekitar tempat tersebut sambil memeriksa sepeda motornya. Alangkah terkejutnya
Pak Nyoman karena motor yang menyala tersebut adalah motor miliknya.
Rekan-rekannya juga tak kalah keheranan sebab dari tadi Pak Nyoman itu duduk
bersama mereka tidak dapat pergi kemana-mana. Salah satu rekannya mencoba
menebak lalu bertanya,” ah bikin kaget aja bapaknya,pake rimut control ya?” pak
nyoman mengerutkan keningnya lalu menjawab,”rimut control? Motor jadul gitu kok
pake remot control!” Ia berkilah sambil
meyakinkan teman-temannya. Lalu siapa yang jahil yah?ini masih jadi misteri di perkemahan pramuka.
Pembaca yang budiman Cerita di atas adalah kisah nyata yang
berdasarkan penuturan Ibu Kadek yang didukung pula oleh rekan-rekannya yang
lain. Walaupun kejadiannya tidak sama persis dengan yang saya gambarkan akan
tetapi apa yang saya sampaikan tidak mengurangi esensi dari peristiwaa
tersebut. Sampai saat ini setelah beberaapa tahun berlalu tak seorangpun dapat
memecahkan teka-teki tersebut sehingga masih menjadi misteri .
Pembaca yang budiman, menyikapi dua peristiwa di atas kira-kira apa pendapat
anda? Sehingga saya mempunyai gambaran yang logis tentang kejadian tersebut, sehingga
misteri itu sedikit terkuak. Jika ingin menanggapi silahkan tinggalkan
komentar di bawah ini!
Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan!
Komentar
Posting Komentar