Embung Gaib Bukit Pangi Terlihat Pada Suatu Siang
Sekitar pertengahan tahun 2011
saya dapat tugas mengawas Ujian Nasional (UN) di sebuah sekolah dasar.
Sekolah dasar tersebut terletak di daerah perbukitan tepatnya di banjar dinas
Kubupangi.
Berada dalam radius 6 kilo meter dari puncak kawah Gunung Agung yang merupakan
gunung tertinggi di Pulau Bali. Karena berada di ketinggian hawa di tempat
tersebut relative sejuk walaupun tidak sesejuk di kawasan Kintamani Bali.
Walaupun
kawasan perbukitan Kubupangi dan perbukitan lainnya di sekitar tempat tersebut sangat hijau dan subur,akan tetapi air masih
merupakan sesuatu yang langka. Masyarakat di kawasan tersebut lebih banyak
mengandalkan air dari hujan yang di tempatkan dalam bak penampungan yang
disebut cubang. Bila musim kemarau panjang,dengan terpaksa penduduk membeli air
dari mobil truk yang menjual atau
memasok air ke desa tersebut.
Adapun
bentuk perhatian pemerintah terhadap penduduk setempat yakni dengan membangun
Embung yaitu kolam penampungan air hujan yang luas, guna dapat memenuhi
kebutuhan masarakat sekitar akan krisis air. Keberadaan embung tersebut selain
di manfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti: minum dan MCK (mandi,cuci,dan kakus) air
tersebut juga dipergunakan untuk minum ternak mereka yaitu : babi dan sapi
pedaging (sapi Bali). Di kawasan ini memang terkenal sebagai penghasil ternak
sapi dengan kualitas yang bagus khususnya di daerah Karangasem Bali.
Sungguh
saya tidak tahu waktu itu, apakah yang disebut dengan cubang dan embung. Teman saya menunjukan
cubang yang ada di halaman belakang sekolah. Saat itu merupakan hari pertama
saya mengawas ujian di sekolah itu. Teman saya juga memberi tahu saya bahwa ada
embung tidak begitu jauh dari sekolah tempat kami mengawas. Saya jadi penasaran ingin melihatnya.
Di hari
ketiga merupakan hari terakhir saya mengawas ujian di sekolah itu. Saya berkeinginan untuk pergi ke tempat embung itu
berada. Begitu selesai melaksanakan tugas mengawas ujian,sayapun bergegas
menuju tempat yang diceritakan teman saya itu. Teman saya bilang tempatnya tidak begitu jauh akan tetapi perasaan sudah
sekian lama sepeda motor saya menyusuri jalan perbukitan ini namun saya belum
menemukan embung yang dimaksud. Sayapun bertanya kepada beberapa penduduk yang
saya temui di sepanjang jalan menuju embung. Jalanan semakin sepi,hanya
pepohonan yang menghijau di kanan kiri jalan yang saya lalui. Mungkin karena
tumben melewati jalan tersebut sehingga saya merasa
perjalanan saya sudah begitu jauh.
Cuaca
sebenarnya sedang cerah tapi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan tujuan
semula. saya menghentikan laju sepeda motor di pinggir jalan sebelah
kiri,hendak berbalik arah dengan memutar sepeda motor kekanan menuju arah yang
saya lalui tadi bermaksud untuk kembali pulang. Sambil membelokkkan setang
motor tak sengaja saya melihat di sebelah kiri sebuah telaga bersemen yang
sangat luas.
Air
telaga itu tinggal setengahnya saja. Beberapa batang pohon bambu kering lengkap
dengan rantingnya melajur ditengah telaga. saya lihat banyak ikan nila dan emas
dalam telaga itu dan beberapa burung bangau hinggap di ranting bambu dan ada
yang tampak terusik atas kehadiran saya, bangau itupun terbang sambil mengeluarkan
kotoran yang jatuh ke telaga dan ikan-kan berhamburan menuju tempat jatuhnya
kotoran burung itu. Wah, jadi ini yang disebut embung,pikir saya.
Saya
memandangi cukup lama obyek yang saya lihat tersebut,puas sudah karena saya
sudah menemukan embung yang saya cari. Akhirnya saya berbelok menuju pulang
kerumah.
Sudah
sekian tahun tepatnya tanggal 28 juli 2017 saya di mutasi untuk bertugas atau
mengajar di SDN 2 Jungutan sekolah dasar yang saya ceritakan di atas. Kabut dan
hujan rintik menyambut saya saat pertama kali bertugas di sana.
Kalau
tidak salah pada bulan September sekolah kami yakni siswa dan guru-gurunya tangkil ngaturang ayah melakukan
pembersihan di areal Pura Pasar Agung Sibetan kira-kira jaraknya 2 Kilo Meter dari sekolah
saya dan radius 4 Km dari puncak kawah
Gunung Agung.
Jalannya
sama dengan arah yang dulu saya lalui ketika ingin melihat embung. Saya pun
menuju Pura Pasar Agung Sibetan dengan buru-buru sebab teman-teman sudah
mendahuli beberapa menit yang lalu.
Di sebuah persimpangan jalan Saya sempat
pangling karena belum pernah melewati jalan tersebut. Saya harus tanya penduduk
atau orang yang kebetulan lewat searah dengan saya. Saya Tanya mana arah menuju
Pura Pasar Agung Sibetan,orang tersebut pun menyuruh saya untuk mengikutinya
sebab diapun akan pergi dengan tujuan yang sama dengan saya.
Akhirnya
saya pun sampai di tujuan,dan yang membuat saya kagum beberapa meter dari
jabaan pura saya melihat embung yang luas dalam kondisi air yang penuh dan
jernih. Di pinggir embung tertata rapi tanaman hias yang membuat asri
lingkungan embung. Pemandangannyapun sangat indah karena berada di ketinggian.
Di pinggir embung ada bangunan yang sepertinya
tempat penjaga atau petugas yang merawat embung. Disertai juga dengan halaman
rumput yang cukup luas.
Melihat
dari kondisi bangunannya tampaknya sudah sangat lama dibangun. Setelah selesai
ngayah atau melakukan kerja bakti Saya menggunakan tempat yang indah ini
sebagai spot berselfi ria dengan beberapa teman.
Menjelang
siang kamipun kembali pulang ke rumah masing-masing. Ketika mulai duduk di sadel
motor saya teringat dengan embung yang saya lihat dulu. Saya pun berniat
melihat kembali embung yang dulu itu. Saya masih teringat dengan jalan yang
pernah saya lalui,tempat saya berhenti dan berbelok. Dan akhirnya saya sampai
di tempat yang dimaksud. Pohon besar di pinggir jalan yang bersebrangan dengan
embung itu masih ada,tapi kemana embungnya? Kok tidak ada? Yang saya lihat
hanya tegalan dan pepohonan.
Saya
mikir sesaat apakah yang saya lihat dulu adalah embung yang sama dengan yang
ada di depan Pura Pasar Agung sibetan yang saya lihat tadi? Tapi kalau sama
kenapa dahulu saya tidak melewati hutan pinus,kenapa dahulu tidak ada rumah
jaga,kenapa tidak ada pura?
Akhirnya
saat itu juga saya mengirim sms kepada teman saya untuk minta konfirmasi
tentang keberadaan embung di sana,apakah satu atau dua. Karena sms tidak di
balas akhirnya saya telepon dan teman saya bilang embungnya memang satu. Nah lho…! Jadi itu adalah embung gaib Bukit Pangi yang saya lihat.
Demikianlah Pembaca yang budiman semoga postingan ini dapat menghibur dan bermanfaat bagi kita semua.
Ok,salam sehat berbahagia selalu dalam lindungan Tuhan!
Komentar
Posting Komentar