Perkampungan Gaib Di Tegalan Sebelah Rumah Dilihat Malam-malam

                Salah seorang teman pernah bercerita kepada saya bahwa pada suatu hari ia diundang oleh sahabatnya untuk matuakan (pesta minuman keras). Minuman itu berupa tuak ( minuman memabukkan yang terbuat dari sadapan air nira pohon enau atau kelapa). Teman saya kebetulan mengontrak rumah kuno yang terletak di tegalan yang jaraknya tak lebih dari 40 meter dari rumah teman yang mengundangnya. Jadi mereka adalah bertetangga.             
                Sorenya sehabis mandi mereka berkumpul untuk minum tuak. Pesertanya tak kurang dari lima orang. Kebetulan salah satu dari mereka ada yang ulang tahun. Ceritanya sih mereka minum-minuman tuak untuk merayakan ulang tahun secara kecil-kecilan.
                Seperti biasanya mereka minum tuak sambil ngobrol dan nyanyi-nyanyi riang. Mereka kerap melakukan ini walaupun diantara mereka tidak ada yang ulang tahun. Mungkin karena hoby dan juga untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja di kebun atau di sawah. 
              Tak terasa malampun tiba. Semakin malam acara minum tuak itu semakin heboh, bukan hanya nyanyi-nyanyi, sekarang mereka sudah joged-joged diiringi musik dari tapecorder dengan speaker yang volumenya lumayan kenceng. 
               Setelah malam larut acarapun selesai. Dengan kepala agak pening karena pengaruh minuman keras tadi, teman saya pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Dia berjalan menyusuri gang kecil tampa penerangan cahaya lampu. Di kanan-kirinya adalah tegalan yang rimbun dipenuhi pohonan dan semak-belukar. Ia berjalan menapaki gang menuju rumahnya dengan dituntun oleh nalurinya. 
                Dalam kondisi seperti ini yaitu berjalan kaki dikegelapan gang yang diapit semak belukar dan pepohonan sebenarnya sangat beresiko, tidak menutup kemungkinan akan menginjak ular atau serangga berbisa. Tapi karena rumahnya dirasa dekat, teman saya itu tidak merasa khawatir untuk menyusuri gang sempit itu. 
                Beberapa meter dia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, kok dia berjalan tidak di gang yang biasa ia lalui? dia  tidak melihat jalan menuju rumahnya,letak rumahnyapun dia tidak tahu. Dia berjalan justru ke arah lain, menuju sebuah tegalan tak jauh dari rumahnya. Mungkin pembaca mengira itu karena dia dalam keadaan mabuk berat sehingga jalannya menjadi ngawur kemudian berhalusinasi,akan tetapi teman saya masih dalam keadaan sadar karena dia tau besok akan kembali bekerja. 
                Di depannya dia melihat pemandangan yang membuat dia kaget keheranan. Dia melihat komplek perumahan yang sangat luas. Sepertinya perkampungan orang Bali. Karena di depan rumah penduduk berjejer angkul-angkul sebagai pintu gerbang masuk ke pekarangan rumah. Dilengkapi dengan penerangan jalan yang sangat terang berjejer di sepanjang jalan perumahan tersebut. Di sebelah gerbang angkul-anggul berjejer penjor sepanjang komplek perumahan tersebut. Sepertinya sedang hari Raya Galungan (hari raya keagamaan Umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap 6 bulan sekali). Komplek perumahan itu sangat bersih rapi dan terang,akan tetapi tampak sunyi tidak nampak ada penduduknya.
                Lho! padahal sebenrnya tempat tersebut adalah tegalan yang dipenuhi oleh pepohonan dan semak belukar.Teman saya sadar kalau ada yang tidak beres. Wah, saya melihat perkampungan gaib malam-malam nih,katanya dalam hati. Dia menghentikan langkahnya. Dia terbengong menyaksikan pemandangan itu untuk beberapa saat,dia tidak berani melangkahkan kakinya lagi sebab khawatir nanti terperosok kedalam lubang karena dia tidak mempercayai pengelihatannya untuk saat ini. Dia hanya berdiri memperhatikan pemandangan gaib yang terpampang di hadapannya. Dia teringat dengan pesan ayahnya,”jika suatu saat dalam perjalanan mengalami kepetengan (hal gaib) janganlah lari tunggang langgang, sebab akan sangat berbahaya, apalagi suasana gelap dan panik, bisa-bisa terperosok ke dalam lubang atau jurang,segeralah duduk dan berdoa!”. Teman saya memegang teguh nasehat ayahnya,dia ingat pada jimatnya yang merupakan busana pada saat masih sebagai anggota Truna di Pura Bale Agung. Dia segera duduk di tanah sembari memegang jimatnya itu sambil mengucaptan doa-doa kepada Hyang Maha Kuasa.
                Beberapa saat kemudian pemandangan gaib yang ada di depannya menghilang. Dia kembali dapat melihat tegalan yang luas nan gelap,dan jalan ke rumahnyapun terlihat di sebelah kanannya. Setelah sampai di rumahnya diapun menceritakan pengalamannya kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya tadi ketika berjalan menuju pulang kerumahnya. Tentang perkampungan gaib di tegalan sebelah rumahnya yang dilihat malam-malam.
                Pembaca yang budiman, dari cerita teman saya itu, mungkinkah teman saya secara tak sengaja terjebak (masuk ) dalam ruang dan waktu yang berbeda? masuk ke alam dimensi lain? Atau mungkin dia sempat masuk dalam portal waktu masa depan? Mungkinkah tegalan itu akan berubah berapa tahun mungkin puluhan tahun kedepan seperti apa yang dilihat oleh teman saya? 
                Pembaca yang budiman kurang pas rasanya bila saya hanya menyisakan pertanyaan di bagian akhir postingan saya ini tampa berpendapat, Pendapat itu sangat dibutuh dan penting sebagai cetusan dan cerminan seseorang dalam memandang dan menyikapi suatu permasalahan. Itulah sebabnya dalam setiap postingan saya selalu menyediakan kolom komentar di bawah ini tempat pembaca untuk berkomentar atau mengutarakan pendapatnya. Perbedaan pendapat itu wajar karena itu merupakan bagian dari dinamika kehidupan. 
                Menurut hemat saya apa yang dialami eleh teman saya itu bisa jadi dia memang tampa sengaja masuk diantara dimensi manusia dan dimensi lain yang pada saat itu sedang bersentuhan,mengingat waktu kejadiannya adalah tengah malam. Tengah malam adalah salah satu dari empat waktu keramat dalam 24 jam. Menurut cerita dari orang-orang tua di desa saya keempat waktu kermat itu adalah: pertemuan antara siang dengan malam,pertemuan antara malam dengan siang, tengah hari dan tengah malam. Keempat waktu keramat ini diyakini kemungkinan walupun tidak selalu, merupakan waktu pertemuan atau persentuhan dimensi manusia dengan dimensi lain yang kita sebut dengan alam gaib.
                Saya tadi sebutkan di atas "masuk diantara dimensi manusia dan dimensi lain" jadi masih berada di antara sebab belum masuk terlalu jauh. Bila masuk terlalu jauh bisa tersesat dong. 
                Demikianlah pembaca,semoga postingan ini dapat menghibur dn bermanfaat tentunya.
                Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan!
                

Komentar

Postingan Populer