Hidup Berdampingan Dengan Mahluk Halus
Tahun 2009 adalah tahun yang sangat istimewa bagi saya
karena di tahun ini saya menempati rumah baru. Saya sangat bersukur mampu
membangun sebuah rumah baru,walaupun mungil dan sangat sederhana.
Tempat
saya membangun rumah sebenarnya adalah rumah kelahiran saya. Dahulu ayah saya
membangun rumah ditempat saya mendirikan rumah sekarang. Sejak saya duduk di
kelas dua sekolah dasar ayah pindah ke rumahnya yang baru. Ayah saya membuat
rumah tidak jauh dari rumah kami yang lama,persis di depan rumah lama hanya di
batasi oleh gang kecil.
Rumah
kami yang lama dibiarkan kosong,sedangkan saya tinggal di rumah paman saya.
Rumah yang kosong dibiarkan tak terurus sehingga pekarangannya seperti tegalan.
Karena tidak dipergunakan lagi,rumah kosong itupun di bongkar sehingga praktis sekarang
pekarangannya menjadi tegalan yang ditanami pisang,kelapa dan dipenuhi oleh
tumbuhan liar dan semak belukar.
Baru
setelah tahun 2009 tempat itu
dibersihkan (secara fisik) dan sayapun mendirikan rumah di atasnya. Tahun
pertama saya tinggal di tempat saya yang baru,sama sekali tidak ada hal aneh
yang terjadi, baru di tahun yang ke dua saya sering merasakan keanehan.
Saya
sering merasa seolah-olah di depan saya ada yang melintas. Sudut mata saya
sering menangkap gerakan seolah-olah ada sesuatu yang bergerak lalu menghilang.
Awalnya saya pikir itu kelelawar yang melintas,atau mungkin bayangan saya
karena sinar lampu dari rumah tetangga. Saya tak pernah cerita kepada istri
saya tentang hal itu karena khawatir nanti saya dibilang penakut atau malah
sebaliknya istri saya akan menjadi penakut.
Demikian
berlangsung berbulan-bulan dan bertahun-tahun akhirnya istri sayapun cerita
kalau sejak tinggal di rumah kami pada
siang hari dia sering merasa seolah-olah ada yang berdiri memperhatikan dia
beraktivitas. Ketika dilihat dengan seksama tidak ada siapapun. Juga sering
merasa tiba-tiba ada yang duduk di depannya begitu dilihat juga tak ada
siapapun.
Saya
hanya mendengarkannya dengan seksama dan mencoba menenangkangnya kalau
pikirannya sedang kacau sehingga dia berhalusinasi. Saya tidak mau istri saya
gundah dan biarlah dia tidak tahu kalau sayapun mengalami hal yang sama.
Saya
pikir hanya kami berdua yang mengalaminya akan tetapi anak sayapun pernah
melihatnya. Pada suatu petang saya mengajak anak saya untuk sembahyang di Sanggah Kamulan (tempat suci di
pekarangan rumah). Di belakang sanggah kami masih merupakan tegalan milik
tetangga. Saya melihat anak saya agak ketakutan,dia tidak berani membuka
matanya. Matanya dipejamkan sambil menyuruh agar segera selesai sembahyang.
Di
kamar dia bilang kepada saya kalau dia tidak berbohong bahwasanya dia
melihat…akan tetapi saya bentak dia,mencegat mulutnya agar tidak berkata-kata
apapun dan menyuruhnya agar lekas tidur.
Baru
besok siangnya saya menanyakan tentang maksudnya semalam. Anak saya bilang
kalau kemarin petang saat sembahyang dia melihat ada bayangan/siluet seorang laki-laki
tetapi siluet itu memiliki mata hidung dan mulut. Siluet itu seolah-olah
mengajaknya bermain cilukba katanya. Makanya dia tidak berani melihat dan ingin
lekas pergi dari Sanggah Kamulan.
Menurut
kepercayaan kami hal itu bisa terjadi karena pekarangan yang kami tempati belum
pernah dibersihkan secara Niskala (belum
pernah diruwat) Karena pekarangan kami dulunya sudah menjadi tegalan
seharusnya fungsi dan setatus tenggalan itu dirubah setatusnya menjadi
pekarangan rumah melalui upacara Matur
Piuning (mohon ijin) dan ruwatan.
Namun
selama ini keberadaan mereka tidak pernah mengganggu kehidupan kami. Dan saya
ingin kami hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.
Pada
tanggal 22 september 2017 terjadi kepanikan,masyarakat di desa saya berbondong-bondong mengungsi
meninggalkan kampung halamannya,termasuk juga saya. Hal ini disebabkan
pemberitaan di media elektronik dan media sosial bahwa Gunung Agung akan
meletus dengan dasyat.
Keberaan
penduduk di desa kami terpencar di berbagai tempat penampungan pengungsi.
Sedangkan saya mengungsi di sebuah pasar rakyat yang terlantar pasar yang sudah
ditinggalkan sehingga pasar tersebut lingkungannya ditumbuhi semak-belukar.
Tinggal
beberapa beberapa hari di tempat pengungsian saya dan istri saya mulai
merasakan hal yang aneh-aneh. Pada suatu malam waktu menunjukan pukul 23.40
Wita. Saya hendak buang air besar di
jamban yang jaraknya 50 meter dari blok kami bermalam. Jamban itu berjajar kurang
lebih 25 buah berdiri di sebuah lapangan yang baru saja di buldoser. jamban darurat
tersebut berdingding terpal pelastik.
Ketika saya jongkok tiba-tiba dingding jamban seperti ada yang memukul-mukul
dengan sesuatu,tetapi tidak begitu keras. Hal itu berulang-ulang terjadi,saya
pun penasaran dan menenggok keluar untuk melihatnya, akan tetapi tidak ada
orang di sana. Begitu saya jongkok, kembali dingding jamban seperti ada yang
memukul-mukul seperti tadi.
Jengkel
juga dibuatnya,saya pun keluar dari
jamban kemudian mengarahkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Dan di selatan
jamban tempat saya tadi yang jaraknya kurang lebih 10 meter saya melihat ada
seorang nenek yang tak berbaju hanya menggunakan kamben (kain) saja berdiri
agak membungkuk membelakangi saya. Saya perhatikan lebih seksama nenek itu
memutar badannya sehingga saya dapat melihat kalau nenek itu sedang memegang
tongkat. Karena tak ingin nenek itu tahu saya sedang memperhatikannya, saya pun
bergegas meninggalkan tempat itu.
Saya
tidak menceritakannya apa yang saya alami kepada istri dan teman-teman yang
lain,kemudian saya meminta istri saya untuk menemani saya ke tempat jamban. Sesampainya
disana saya mengarahkan pandangan keseliling tempat itu mencoba menemukan nenek
yang tadi saya lihat, akan tetapi nenek tersebut benar-benar sudah tidak ada di
tempat itu lagi. Akhirnya saya pilih bilik jamban yang berbeda dan sejauh itu
aman-aman saja.
Pada
malam yang berbeda giliran istri saya hendak buang air besar di Wc. Letaknya
memang bersebelahan dengan jamban yang berjejer tersebut. Ada 3 wc permanen di
tempat itu. Bekas Wc pasar rakyat yang sudah tidak dipergunakan lagi. Beberapa
menit setelah istri saya berjongkok,dia mendengar suara-suara riuh dan ada yang
tertawa-tawa,ada yang bernyanyi, kadang terdengar seperti suara orang yang
sedang menonton sepak bola dan ada juga yang mengobrol. Istri saya mencoba
mendengarkan apa yang diobrolin namun tak jelas apa yang diobrolin dan istri saya
tidak mengerti bahasanya, padahal suara-suara itu terdengar sangat dekat.
Istri
saya mengira orang yang mengobrol tersebut adalah orang yang sedang mengantre
untuk menggunakan wc. Karena merasa tak nyaman berlama-lama di wc sementara
orang mengantre,istri saya pun keluar dan dia sangat terkejut ternyata di
sekitar wc itu sangat sepi,tidak ada orang yang mengobrol apa lagi
tertawa-tawa. Karena waktu itu sudah tengah malam semua warga pengungsi sudah
tidur terlelap.
Istri
saya kembali masuk wc untuk melanjutkan buang air besarnya dan kali ini dia
mengira mungkin suara-suara itu berasal dari lain tempat yang di bawa angin.
Ketika pintu wc di tutup diapun kembali mendengarkan suara-suara itu dan sangat
dekat dan riuh. Tidak ada alasan untuk mengatakan suara-suara itu berasal dari
lain tempat yang dihembuskan angin,karena sangat dekat dan sangat riuh. Istri
saya menjadi merinding dan cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Dan ada
keganjilan-keganjilan lainya lagi yang kami alami,sementara saya tidak
mendengar orang lain sesama pengungsi di tempat itu mengalami hal-hal yang
aneh.
Pada
suatu siang kebetulan ada dua orang pemulung yang merupakan suami-istri bertanya dan mengobrol dengan istri saya.
Pemulung itu menasehati agar berhati-hati di tempat tersebut karena tempat itu
angker. Pemulung itu bilang lebih lanjut bahwa tempat yang digunakan sebagai
pasar rakyat (pasar seni) tersebut merupakan bekas kuburan.
Pada
kesempatan yang lain seorang penduduk yang sedang menyabit rumput disekitar
tempat itu menasehati agar berhati-hati mengajak anak kecil karena tempat itu
angker dan ada banyak penunggunya.
Ketika
istri saya belanja di sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari tempat
pengungsian,penjaga warungpun menasehati hal yang sama kepada istri dan teman
istri saya yang kebetulan bersama-sama belanja di warung tersebut.
Kami
merasa tak nyaman lagi di tempat tersebut,ada rasa was-was dan takut
menyelimuti hati kami. Pada suatu kesempatan kami pulang kerumah entah kenapa kami merasakan perasaan yang sangat takut untuk kembali ke tempat pengungsian. Kami tidak ingin kembali ke tempat itu, padahal waktu itu pemberitaan sedang
gawat-gawatnya di media sosial.
Akhirnya
saya memutuskan untuk sembahyang bersama guna memohon petunjuk dan sekalian
memohon perlindungan kepada Hyang Maha Kuasa serta sekalian mohon kepada
penunggu di rumah kami untuk ikut serta ke tempat pengungsian dan menjaga kami. Saya yakinkan itu pada diri saya bahwa Selain Tuhan ada kekuatan lain yang menjaga kami,yaitu penghuni di lingkungan tempat tinggal kami.
Sehabis
sembahyang kami pun merasa nyaman dan tenang untuk kembali ke tempat
pengungsian. Di sepanjang perjalan malah kami bernyanyi-nyanyi kecil.
Beberapa harinya karena pemberitaan sudah
berkurang dan situasi sudah dianggap aman kami pun sudah di perbolehkan pulang.
Kamipun pulang kerumah untuk menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Pembaca yaang budiman, dari pengalaman saya di atas dapat kiranya saya simpulkan bahwasanya bila kita baik memandang
sesuatu yang berbeda dengan diri kita atu alam kita dan kita menempatkannya sebagaimana mestinya,maka sesuatu yang berbeda itupun dapat bermanfaat bagi kehidupan kita.
Demikianlah pembaca yang budiman, cerita saya tentang "hidup berdampingan dengan mahluk halus" semoga postingan ini dapat menghibur dan bermanfaat bagi kita semua.
Sekiranya saudaraku rekan pembaca
yang budiman mempunyai pengalaman seputaran topik di atas,mungkin bisa membagi
pengalamannya untuk saya tulis dan bagikan kepada rekan yang lain sebagai bahan
renungan dan inspirasi. Akhir kata saya ucapkan terimakasih atas waktunya
karena telah membaca postingan ini.
Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan!
Komentar
Posting Komentar