Jangan Dibawa Pulang Ke Rumah Terlihat Sepele Bisa Membahayakan
Para pembaca yang budiman,lama sudah saya tidak memposting konten di sini. Hal itu dikarenakan ada keraguan di hati saya. Ada pertanyaan yang membebani pikiran saya,bisakah blog ini jalan? Mengingat topic yang saya pilih untuk di angkat di sini agak di luar nalar,itu menurut hemat saya . Pun semenjak saya menulis konten tersebut di sini kok perasaan saya menjadi agak-agak aneh dan sulit untuk saya jelaskan. Tapi karena saya merasa sudah kepalang basah maka saya putuskan untuk lanjut.
Pembaca yang budiman,kenapa saya pilih judul di atas? Karena
itu sesuai dengan pengalaman yang saya
alami dan akan saya share untuk sahabat
yang setia kepada blog ini.
Pada pertengahan tahun 2019 Sekolah di tempat kerja saya
mendapat bantuan gedung dari pusat. Bangunan lama yang terdiri dari enam kelas
dan satu gedung perpustakaan diratakan dengan tanah kemudian di atas tanah itu akan
dibangun gedung baru yang lebih bagus dan lebih kokoh.
Pengerjaan proyek ini memakan waktu enam bulan termasuk proses
perobohan gedung lama. Dalam kurun waktu enam bulan itu ruang kelas di
pindahkan ke sebuah lapangan. Kami membangun tenda di sana. Sedangkan khusus
tempat kerja pinpinan terpaksa meminjam balai masyarakat tak jauh dari lokasi
proyek tersebut.
Kami melakukan proses pembelajaran di dalam tenda yang kami
sekat-sekat menjadi enam kelas. Prosess belajarpun berjalan dengan lancar walaupun
dalam suasana yang berbeda. Ternyata para siswa sangat menikmati suasana yang
baru tersebut. Mereka rata-rata bilang senang belajar dalam situasi seperti itu,katanya
sih lebih seru.
Kebetulan pada saat yang bersamaan saya mengikuti pelatihan
ke lain kota yaitu ke Denpasar. Pelatihan itu juga berlangsung selama enam
bulan. Pada bulan Desember saya sudah
selesai pelatihan dan gedung barupun
rupanya sudah sampai tahap pinising. Jadi pada bulan Januari 2020 sudah bisa
angkut-angkut barang dan pekakas lainnya untuk dipindahkan ke gedung yang baru.
Oya pembaca karena pada saat akan membangun gedung baru
harus di atas tanah yang kosong sehingga
bangunan yang lama harus dirobohkan rata dengan tanah. Prosesnya menggunakan
alat berat maka kebun atau taman di halaman pun ikut diratakan. Tapi beruntung
masih ada 3 pohon kecil yang tersisa: satu pohon cengkeh,satu tanaman hias
sejenis palem dan satunya lagi pohon pakis yang lumayan tinggi,tingginya kurang
lebih lima meteran, tapi sayang sudah tidak berdaun alias sudah mati akan
tetapi masih berdiri kokoh.
Di pohon pakis itu (kami menyebutnya pohon lemputu) dipenuhi
tanaman anggrek yang tumbuh subur. Memang
di halaman sekolah kami banyak tumbuh tanaman angrek.
Karena kebun sudah berantakan sehingga mesti di buat yang
baru lagi maka pohon pakis itu di tebang oleh rekan kerja saya.
Potongan-potongan pohon pakis itu ditaruh di belakang gedung sekolah yang
baru,namun tanaman anggreknya dibiarkan melekat begitu saja di potongan batang
pohon tersebut.
Dalam waktu dua minggu ini aktivitas sekolah kami belumlah efektik,karena ruangan kelas sebenarnya
belum siap betul atau belum selesai seratus persen sebab ada beberapa bagian
yang sedang di cat,jadi tukang masih tetap bekerja. Karena tenda tempat kami
belajar mengajar roboh dengan
sendirinya,terpaksa barang-barang perabotan sekolah kami taruh bertumpuk begitu saja dalam ruangan kelas yang
baru. Anak-anak belum mempunyai tempat
belajar,jadi mereka datang kesekolah
untuk ikut membantu guru mengangkut bangku dan meja serta melakukan pembersihan
lingkungan,setelah itu siswa dipulangkan lebih awal.
Selama dua minggu ini kegiatan di sekolah diisi dengan angkut-angkut
barang,penataan taman dan bersih-bersih sehingga jam pulangnya tidak seperti
biasanya jadi saya punya banyak waktu untuk hoby saya yaitu melukis.
Kebetulan saya menemukan sebuah poto seorang gadis di halaman
facebook yang menarik untuk saya lukis. Sayapun melukisnya di atas kanvas. Baru
berlangsung beberapa saat saya lihat kok lukisan saya terlihat serem, saya semakin
perhatikan kok semakin serem? Gagal nih,seharusnya kan cantik. Kok saya merasa takut
untuk melanjutkan melukisnya? Sayapun berhenti melukis gadis tersebut. Saya
taruh di antara lukisan-lukisan saya yang lain,wadow ngawur deh,saya tetap saja
takut melihatnya. Kemudian lukisan yang belum jadi itu saya letakkan terbalik
di dalam tumpukan kanvas,agar saya tidak dapat melihatnya.
Kalau tidak salah sehari atau dua hari setelahnya saya jatuh
sakit. Kemudian berselang sehari istri saya juga ikut sakit,seharinya lagi anak-anak
saya juga sakit. Loh kok sekeluarga sakit? Wah menular nih,pikir saya. Jadinya
ipar saya yang sibuk mengantar kami ke dokter secara bergiliran.
Saya jadi tak habis pikir kok sekeluarga sakit ? Jelas ini
menular tapi kok kedua ipar saya dan keponakan-keponakan saya tidak tertular?
Padahal ponakan-ponakan saya yang masih
kecil-kecil setiap hari bermain dengan anak-anak saya. Tidurpun mereka biasa sekamar,makan
juga sering sepiring bersama karena memang mereka seumuran.
Apakah lukisan itu penyebabnya? Wadow jangan ngawur deh! Pikiran
saya jadi campur aduk begini. Rasanya sih tidak mungkin karena sudah jelas kalo
sakit ya penyakit penyebabnya,kata batin saya untuk mencoba meluruskan pikiran saya. Memang
iya sih penyakit semacam kuman atau virus penyebanya tapi kok penyakit itu bisa
pilih kasih sih? Ok deh imun mereka berbeda, tapi masa iya sih?
Tetap saja hati saya merasa tidak nyaman,pasti ada sesuatu
nih,kata batin saya. Saya jadi muter otak ini pasti ada penyebab lain diluar
akal sehat kita,tapi apa? Akhirnya pada sore harinya saat saya menyapu halaman
rumah mata saya tertuju pada sebuah tas plastic warna merah yang teronggok di
sudut tembok pekarangan. Saya penasaran saya lupa apa sih yang ada di dalam tas
keresek tersebut? Akhirnya saya mengambil lalu membuka tas keresek itu untuk
memastikan isinya,ternyata isinya adalah tanaman angrek.
Saya lupa bahwa saya mengambil anggrek yang dibiarkan begitu
saja melekat pada potongan-potongan pohon pakis yang tergeletak di belakang sekolah yang caya
ceritakan di atas.
Ah ,tengkuk ini merasa merinding melihat anggrek yang saya
pegang. Saya jadi teringat dengan cerita orang-orang tua di desa saya,bila ada
pohon yang sudah mati tapi masih berdiri,biasanya pohon tersebut disukai atau
di huni oleh mahluk halus.
Saya jadi terbayang pada pohon pakis yang sudah mati itu di
halama sekolah,dan teringat pada cerita teman-teman senior saya bahwa di
sekolah itu memang (anget/tenget)
angker. Banyak peristiwa yang terjadi di luar nalar. Dan yang terakhir adalah
pada waktu proyek pengerjaan gedung sekolah yang baru.
Memang pada waktu proyek itu berlngsung saya sedang pelatihan
di luar daerah jadi tidak tahu ada kejadian di sekolah kami. Menurut cerita rekan-rekan kerja saya dan beberapa
penduduk di sekitar lingkungan sekolah tersebut,bahwa saat pembangunan sekolah
sedang berlangsung,ada seorang tukang sedang memasang plapon tiba-tiba
diganggu,kakinya ditarik-tarik oleh anak-anak kecil entah dari mana
datangnya sehingga kaki tukang tersebut
terpleset dan jatuh.
Banyak yang menafsirkan tentang musibah tersebut kenapa bisa
terjadi dan saya melihat sendiri bahwa para tukang yang berasal dari luaar
daerah ataau luar pulau tersebut kurang memahami adat istiadat dan tata karma daerah
setempat. Misalnya mereka menjemur pakaian di atap atau membentangkan tali
jemuran tinggi sekali,setinggi atap rumah padahal bagi daerah setempat itu
sangat tidak sopan dan tidak beretika karena dapat mencemari kesakralan di
tempat itu padahal ditempat itu tergolong angker makanya terjadi musibah yang
menelan korban jiwa tersebut.
Mengingat akan hal itu pagi-pagi sekali saya sudah berangkat
ke tempat kerja dengan membawa tas kresek yang berisi angrek,kemudian anggrek
tersebut saya kembalikan ke tempat semula dimana saya mengambilnya beberapa
hari yang lalu. Tentu saja diiringi dengan ucapan maaf karena telah mengambil
sesuatu yang bukan milik kita tampa mohon ijin terlebih dahulu.
Dan sulit dipercaya setelah saya kembalikan anggrek tersebut
kamipun sembuh seperti sedia kala. Obat dari dokter yang baru diminum dua biji
saya suruh agar dihentikan sebab sudah sembuh.
Demikian pembaca yang budiman kisah yang saya alami,mungkin
ini bisa menjadi pertimbangan terhadap gerak langkah kita kedepan. Ingat jangan sembarangan membawa sesuatu pulang ke rumah walaupun terlihat sepele sebab bisa saja itu akan membahayakan diri kita. Jadi selalu hati-hati dan tetap waspada. Trimakasih
atas waktunya telah membaca postingan ini!
Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan!
mirip kejadian kenalan saya pak hanya saja beliau bawa anggrek dari gunung pulang ke rumahnya, malam hari timbul bau wangi dan setelah beliau telusuri sumbernya dari anggrek tersebut di pot teras rumahnya yang saat itu sudah beribah wujud jadi sesosok perempuan tua minta dipulangkan, akhirnya besok hari dikembalikan anggrek itu ke tempat semula
BalasHapusIya memaang secaara logika tidak masuk akal tetapi efeknya nyata. Ceritanya menarik jika ada waktu mungkin bisa kontak email saya. ceritanya bisa saya tulis di sini
BalasHapus