Wong Samar Mendekap Anak di Permandian Nungging

Pada bulan Juli  tahun 2019 yang lalu saya mengikuti  pelatihan di Denpasar.  Pelatihan itu diikuti oleh seratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan itu berlangsung selama enam bulan penuh.  Di sana saya berjumpa dengan teman satu daerah yang juga mengikuti pelatihan di tempaat itu, sama seperti saya. Teman saya itu berinisial IBWP.

Bila jam istirahat tiba kami memanfaatkannya dengan berkumpul bersama teman-teman peserta pelatihan untuk sekedar ngobrol-ngobrol  di teras gedung kampus tempat pelatihan tersebut dilaksanakan.  Pada suatu kesempatan saya bercakap-cakap dengan  IBWP teman sedaerah yang saya sebutkan di atas. Entah bagaimana mulanya hingga kami membahas tentang hal yang bersifat gaib tau ganjil-ganjil.

Obrolan menjadi semakin menarik  saat IBWP bercerita kepada saya bahwa dia pernah mengalami suatu peristiwa yang sulit dicerna oleh akal sehatnya. Sesuatu yang ganjil, sesuatu yang  sebelumnya  tidak pernah terpikirkan olehnya.  Menurut penuturannya bahwa ia pernah melihat dunia lain yaitu dunia wong samar dengan mata kepalanya sendiri. Dia melihat wong samar mendekap anak di permandian  nungging.

Menurut penuturannya, pada suatu siang yang terik ia bermaksud untuk membuang air besar di sungai yang dulu sewaktu kecil Jadi tempat paporitnya untuk buang air besar (BAB). Ceritanya ia mau bernostalgia lagian juga ia sangat kangen pada tempat tersebut. Sewaktu kecil ia biasa mandi di pancoran di sebuah permandian umum yang bernama kayoan tungging. Bila dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya Permandian Nungging.  Dahulu semasa duduk di sekolah dasar bila hendak berangkat ke sekolah  biasanya ia akan buang hajat terlebih dahulu lalu akan mandi setelahnya di pancuran tersebut.

Kenapa disebut kayoan tungging atau permandian nungging karena permandian ini terletak di pinggir sebuah sungai berbatu yang dijadikan wc oleh warga sekitarnya.  Setiap pagi hari di sungai ini akan didapati banyak warga yang buang hajat dalam posisi jongkok atau nungging,mungkin itulah sebabnya  permandian ini disebut dengan kayoan tungging atau permandian nungging, karena berhadapan  langsung dengan tempat buang hajat tersebut.

Di sepanjang aliran sungai ini ditumbuhi bebagai jenis pepohonan yang membuat suasana di sepanjang sungai itu menjadi teduh.  Berbagai bentuk dan ukuran batu memenuhi sungai itu, yang memudahkan dan membuat warga sekitar menjadi nyaman untuk membuang hajat di situ, sehingga tempat itupun dipergunakan sebagai “wc umum” bagi warga di sekitar tempat tersebut.  Bagaimana pembaca, terdengar jorok ya? Hem,itu  dulu tapi sekarang masyarakat sekitar sudah semua memiliki wc dan setelah air keran desa dan PDAM  mengalir  di desa tersebut maka sangat jarang ada warga yang mandi atau buang hajat di tempat  itu sehingga kini tempat tersebut menjadi sangat sepi.

Kembali  kepada  cerita teman saya, siang itu matahari tepat berada di atas kepala, dengan tergesa-gesa dia turun ke sungai untuk buang hajat di tempat tersebut. Tempatnya memang mengasikkan, suasananya masih asri teduh dan air sungainyapun jernih. Banyak ikan-ikan kecil berenang kian kemari di dekat dia jongkok.  Oh ya,pembaca yang budiman, mohon maaf ya seting tempat ceritanya di tempat seperti ini jadi agak risih rasanya saya harus berulang kali menggunakan istilh “buang hajat” pada postingan ini,habis teman saya bercerita peristiwanya terjadi  pas pada saat adegan  itu berlangsung. Jadi haraf maklum yah!

Sambil buang hajat teman saya terlena menyaksikan ikan-kan kecil itu berenang mengerubuti makanannya  yang baru saja ia luncurkan, kemudian hanyut dibawa arus air, laksana kapal selam yang dikerumuni ratusan prajurit. Dan akhirnya kapal imut itu karam tersangkut akar pohon yang menjorok ke dalam sungai.  Sekonyong-konyong  dia mendengar suara tangisan bayi sayup-sayup dibawa angin,semakin lama suaranya semakin jelas.

Teman saya  menoleh ke kanan dan ke kiri, jelas dia terlihat kebingungan mencari sumber suara tersebut, matanya menjelajahi  seputar tempat itu,  tetapi ia tidak melihat siapapun di tempat tersebut, hanya suara tangisan bayi itu semakin lama semakin jelas dan semakin dekat saja. Anak siapa itu ya? pikirnya diliputi rasa penasaran. Belum hilang rasa penasarannya tiba-tiba pemandangan di depannya berubah,lingkungan  di sekitar tempatnya itu berubah total. Yang dilihat adalah pemandangan yang jauh berbeda. Kemudian dia melihat seorang wanita  muda memakai longdress mirip dengan penampilan perempuan muda tempo dulu. Perempuan itu sedang berpayung sambil mendekap  seorang bayi yang sedang menangis, mungkin itu bayinya. Terkesan kalau bayinya itu sedang sakit. Perempuan itu berdiri  di atas jembatan kuno, jembatan itu tampak masih megah. Di  kanan dan kiri atau di sekitar jembatan tersebut terhampar pemandangan sawah dan perbukitan yang  luas nan hijau.

Di ujung jembatan tampak seorang wanita setengah baya memakai daster. Perempuan paruh baya itu  berjalan menghampiri perempuan yang sedang membawa  bayinya  tersebut. Sepertinya mereka adalah menantu dengan mertuanya. Teman saya tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh kedua orang tersebut dalam bercakap-cakap.

Melihat kejadian aneh seperti itu teman saya menjadi kaget bukan kepalang.  Diapun bertanya-tanya dalam hatinya, saya sedang ada dimana ini? Apa sebenarnya yang sedang terjadi? pikirnya galau. Sebab apa yang terpampang di hadapannya benar-benar merupakan tempat yang asing baginya.

Beruntung ia masih  bisa menguasai diri dan menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi. Wah ini Wong Samar, saya berada dalam dunia lain,katanya membhatin. Akhirnya ia konsentrasi dan focus kepada-Nya lalu menyebut nama Tuhan  berulang kali sehingga akhirnya perlahan suasananya kembali berubah normal. Ia kembali bisa melihat sungai dan pancuran itu serta batu tempat dia berpijak.  Setelah keadaan kembali normal, iapun buru-buru membereskan urusannya lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang tak menentu.

Pembaca yang budiman, dari pengalaman teman saya di atas kiranya itu cukup memberikan kita bukti bahwasanya ada ruang dan waktu di luar dari ruang dan waktu yang kita punya.  Saya jadi teringat dengan nasehat para orang tua di desa saya, bahwasanya pada saat-saat tertentu ruang dan waktu yang berbeda itu akan saling bersentuhan dan saling terhubung. Dimensi  kita pada saat-saat tertentu akan bersentuhan dengan dimensi lain di luar dimensi kita. Orang yang mengagung-ngagungkan logika pasti akan menganggap itu sebagi sebuah kemustahilan dan mengganggap itu Cuma tahayul atau bualan belaka.  Walaupun hati dan pikirannya penuh pertentangan yang mengakibatkan pertengkaran bathin dan itu merupakan benih ketidak bahagiaan.

Orang-orang tua mengajarkan kita untuk menerimanya sebagai sebuah kesadaran akan kebesaran Tuhan. Biarlah itu menjadi bagian dari rahasia alam yang tidak perlu kita pertentangkan.

Pada postingan sebelumnya pernah saya utarakan bahwa persentuhan atau persinggungan ruang dan waktu itu bisa terjadi bertepatan dengan pertemuan antara malam dan siang atau sebaliknya pertemuan siang dan malam,tengah hari atau juga tengah malam. Kata orang-orang tua zaman dulu, pada waktu-waktu tersebut mesti lebih waspada. Hendaknya jangan keluyuran atau berada di tempat seperti: sungai,lapangan,persimpangan jalan, sebaiknya diam di rumah atau bila sedang berada di luar rumah sebaiknya beristirahat sebentar menunggu waktu-waktu keramat itu berlalu. Kenapa demikian karena disamping adanya persinggungan ruang dan waktu juga pada pada saat seperti itu para Bhuta kala (kekuatan negative) termasuk mahluk halus keluar bergentayangan.

Terlepas dari itu pada waktu-waktu tersebut adalah waktunya binatang buas,binatang melata, serangga berbisa keluar mencari makan. Jadi berhati-hatilah dan selalu waspada di manapun kita berada. Terimakasih sudah membaca postingan ini dan semoga postingan ini bermanfaat  bagi kita semua.

Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan.

Komentar

  1. Aku sangat percaya adanya wong samar dan makhluk Alus lainya 👍👍👍🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer