Kumangmang Mahluk Menyala Yang Suka Makan Katak
Sebagai anak desa sudah sejak kecil saya sering mendengar cerita orang-orang di desa tentang
endihan (nyala seperti lampu yang bersifat gaib) warnanya
bisa bermacam-macam,misalnya: merah, biru, hijau, ungu, kuning dan sebagainya. Seorang teman pernah bercerita kepada saya bahwa dia pernah diikuti oleh sebuah bola api. Sahabat paman saya juga bercerita bahwa dia pernah melihat api melayang di antara pohon kelapa, api itu
sebesar bola sepak bola. Ada juga yang bercerita pernah melihat bola api
menggelinding di kuburan ketika mereka melitas di jalan yang melewati kuburan.
Ada juga yang melihat bola api bergelantungan di pohon atau atap rumah, dan
besoknya bila dicek ke tempat itu, ternyata tidak ada tanda-tanda sesuatu yang
terbakar.
Awal
tahun 1980-an aliran listrik belum ada di desa saya. Penerangannya masih menggunakan
lampu templek (lampu tempel) dengan menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Dalam
satu rumah kami memiliki dua lampu templek yang mana satu lampu digunakan di
ruang tidur, dan satunya lagi diletakkan di teras rumah.
Pada
suatu hari saya menginap di rumah bibi, waktu itu saya masih kecil dan belum bersekolah. Saya
bersama paman tidur di teras sedangkan bibi bersama nenek dan ponakannya yang
lain tidur di kamar tidur. Teras tempat kami tidur berdingding bilah-bilah
bambu yang dianyam sedemikian rupa.
Pada
tengah malam saya dibangunkan oleh bibi dan nenek saya mungkin mereka khawatir
meninggalkan saya yang masih kecil tidur seorang diri sementara semua orang rumah pergi ke tegalan di sebelah rumah yang berjarak kurang lebih 20 meter dari rumah saya menginap.
Bersama
mereka saya menonton phenomena langka, kami melihat sesuatu yang menyala akan
tetapi tidak nampak ada sinarnya. Sesuatu berwarna merah sebesar kepalan tangan orang
dewasa. Yang berwarna merah menyala itu jumlahnya banyak, kemudian mereka berkumpul
menjadi satu sehingga membentuk seperti bola api raksasa. Beberapa saat kemudian mereka
buyar dan berpencar di atas persawahan yang jaraknya tidak begitu jauh dari
tempat kami berdiri. Mungkin hanya berjarak 50 meter saja. Tak lama kemudian
mereka akan berkumpul kembali membentuk bola raksasa dan berpencar kembali.
Saya menanyakan
kepada nenek benda apakah itu, nenek saya haya mengatakan kalau itu adalah
kunang-kunang jaran yang sedang berkawin. Saya percaya saja kepada nenek kala itu. Karena rasa dingin dan mengantuk kamipun kembali tidur.
Setelah
saya dewasa barulah mengerti kalau yang saya lihat sewaktu kecil dahulu adalah kumangmang atau endihan. Menurut informasi yang saya terima di masyarakat,
kumangmang atau endihan itu kelihatannya saja jauh akan tetapi sebenarnya jarak antara
kita dengan mereka cuma sejauh lemparan kita. Bila kita melempar batu sejauh
mana lemparan kita,sejauh itulah kumangmang itu berada, akan tetapi mereka bisa
mengecoh penglihatan kita sehingga terlihat jauh. Tetapi bila terlihat apenimpugan (sejauh lemparan kita) maka
benda/mahluk entah apa namanya itu sebenarnya berada sangat dekat dengan kita.
Ada
yang mengatakan bahwa endihan itu adalah sejenis ilmu hitam (pengeleakan) yang
tingkatanya lumayan tinggi. Makananya katak dan ikan-ikan, juga bangakai entah
bangkai anjing dan sebagainya. Saya
masih kurang faham apakah endihan sama dengan kumangmang?
Ketika
saya duduk di sekolah dasar pernah bertanya kepada nenek, prihal apa yang
disebut dengan kumangmang. Nenek mengatakan bahwa kumangmang adalah roh-roh dari orang
yang meninggal tidak wajar misalnya karena tindak kekerasan, dan tidak mendapat
perlakuan yang semestinya. Tidak didoakan dan diupacarai sebagaimana mestinya.
Maka roh-roh itu bergentayangan di alam manusia. Makanannya adalah anak katak
dan ikan-ikan kecil. Sedangkan menurut almarhum paman saya
kumangmang adalah semacam mahluk halus.
Untuk
sementara saya berpegang pada cerita almarhum nenek, saya belum pernah membaca literasi tentang hal ini. Mungkin bila ada
pembaca yang tahu tentang hal ini bisa berbagi atau saring demi membuat
postingan ini menjadi lebih baik.
Baiklah pembaca saya lanjutkan ceritanya. Pada tahun 1996 listrik sudah masuk ke desa kami. Jalanan dan rumah-rumah
sudah terang benderang. Pada suatu malam saya pergi mencari ikan di persawahan yang jaraknya
lumayan jauh dari rumah saya. Untuk mencapai tempat itu saya harus melewati sungai dan dua persawahan (dua subak).
Saya biasa mencari ikan seorang diri menggunakan lampu hasil modifikasi yang berbahan bakar
karbit.
Dengan pertimbangan agar
mendapatkan ikan yang lebih banyak maka pada pukul 19.30 wita saya sudah berangkat, sambil
menjingjing sebuah ember tanggung dan sebilah parang, sayapun menyusuri areal
persawahan. Mulai dari sawah yang terdekat sampai ke sawah yang melewati sungai berbatu. Berbagai
ikan seperti : lele, ikan gabus, udang, keong, kodok sawah dan belut sudah
banyak saya dapatkan, malah dapat seekor ikan sidat yang lumayan besar, tumben saya dapat ikan banyak. Semakin malam saya semakin asik saja rasanya dan semakin banyak pula saya mendapatkan ikan..
Di
sebelah kiri saya tampak ada sesuatu yang menyita perhatian saya mulanya terlihat jauh tapi semakin lama
semakin mendekat. Mulanya saya mengira itu orang yang sama seperti saya sedang mencari
ikan. Akan tetpi semakin dekat kok terlihat aneh, benda yang berwarna merah yang tadinya
saya pikir lampu ternyata tidak mengeluarkan cahaya tidak ada bayangan sinar di
atas air ketika benda merah sebesar kepala orang dewasa tersebut bergerak-gerak di atas petak
sawah yang yang tergenang air.
Benda
itu terkadang bergerak lamban dan terkadang bergerak sangat cepat beberapa jengkal di atas petak
sawah. Tidak ada seorangpun yang tampak di sana benda itu sepertinya
melayang-layang sendiri.
Ah
mungkin saja ada orang yang jahil ingin menakut-nakuti pikir saya. Saya mencoba menjauhi benda itu tetapi saya berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut. Saya
bergerak menjauh sambil seolah-olah masih asik menangkapi ikan, padahal saya
tidak memperdulikan ikannya. Akan tetapi memperhatikan benda itu yang selalu mendekat hingga jaraknya menjadi kurang-lebih 30 meteran dengan saya.
Kesal juga dibuatnya, kemudian saya
mendekatkan parang saya ke lampu agar terlihat kalau saya memegang parang yang
berkilauan. Benda itu semakin mendekat kemudian tidak bergerak-gerak seperti sebelumnya. Saya berdiri tegak menghadap ke benda itu, siapa tau itu memang orang yang tidak
bermaksud menakuti tapi kebetulan mencari ikan yang dekat dengan saya. Karena jarak tempat saya berdiri dengan benda itu lumayan dekat maka dengan leluasa pandangan mata saya dapat melihat ke sekeliling benda tersebut. Saya memperhatikannya dengan lebih seksama ternyata memang tidak ada
orang di sana, benda itu diam melayang di atas petak sawah yang tergenang air.
Saya tidak mungkin salah lihat kata saya dalam hati kala itu sambil mengucek-ngucek mata. Tiba-tiba saja rasa ketakutan mulai menjalari tubuh saya,
hingga tengkuk saya terasa dingin oleh keringat. Oh, ini kumangmang kata saya dalam hati. Dasar
penakut saya pun pergi dari tempat itu terburu-buru.
Namun saya
tidak langsung pulang akan tetapi pergi ketempat atau persawahan lain (subak
lain). Kali ini di lingkungan persawahan yang paling dekat dengan lingkungan
saya. Di tempat ini saya tidak menemukan ikan sama sekali malah tiba-tiba lampu saya padam.
Waduh, saya menyesal juga kenapa tadi tidak langsung pulang? Sekarang saya
pulang tertatih-tatih karena gelap-gelapan. Entah berapa kali tercebur di
selokan irigasi sawah.
Akhirnya
saya sampai di rumah pukul 01.20 wita. Kaki saya terasa perih karena tergores saat
tercebur di selokan tadi. Saya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan,
ketika saya melihat ikan yang ada di dalam ember ternyata setengahnya sudah tidak ada,
mungkin terjatuh saat saya terperosok tadi.
Sejak
kejadian malam itu saya males mencari ikan jauh-jauh. Takutnya lampu tiba-tiba
padam bila tidak kenal medan bisa berbahaya berjalan di tengah malam apalagi
melintasi sungai dan persawahan seorang diri.
Pembaca
yang budiman begitulah sekilas pengalaman saya, dan itu sudah lama terjadi.
Mungkin pembaca punya pengalaman yang seru bisa di share di sini. Atau hanya sekedar menanggapi, silahkan tinggalkan komentar di bawah ini.
Ok,salam sehat bahagia selalu dalam lindungan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar