Penampakan Mahluk Halus Pada Sore Hari Di Jalan Yang Ramai
Empat tahun silam istri saya sedang ngidam keras. Seperti biasanya setiap ngidam istri saya susah makan, maunya tidur saja. Jangankan makan melihat dan mencium makanan saja dia sudah muntah. Seperti orang ngidam pada umumnya istri sayapun kerap berludah dan muntah-muntah. Ember kecil yang saya sediakan selalu penuh oleh air ludah dan muntahannya.
Pada suatu sore yang cerah, dan waktu menunjukan pukul 16.00 wita saya mengajak istri saya untuk control ke bidan. Kegiatan kontrol kebidan ini memang rutin kami lakukan untuk mengetehui perkembangan dan untuk menjaga kesehatan janin dan kehamilan istri saya. Tapi sebelum kontrol ke bidan terlebih dahulu kami mesti mencari surat rujukan ke dokter keluarga yang ditunjuk oleh BPJS.
Jarak antara peraktek bidan dengan tempat praktek dokter BPJS tersebut sebenarnya tidak jauh,cuma kira-kira 20 meter saja. Saya masuk seorang diri ke ruang tunggu menunggu giliran untuk dipanggil ke ruang praktek. Sementara istri saya memilih untuk menunggu di pinggir jalan raya hanya berjarak beberapa meter dari pintu gerbang halaman dokter BPJS tersebut. Kata istri saya malas menunggu lama di ruang tunggu sebab ia ingin meludah terus. Istri saya duduk di pinggir jalan di atas trotoar bersebelahan dengan motor saya.
Pada saat itu kebetulan pengunjung tidak begitu ramai sehingga saya tidak perlu mengantre terlalu lama. Tapi tak lama berselang tiba-tiba istri saya menyusul saya ke ruang tunggu dengan wajah pucat dan nafas agak ngos-ngosan. Saya jadi penasaran, dalam hati bertanya-tanya ada apakah gerangan? Saya hanya menatap wajahnya sesaat sembari menaruh jari telunjuk di bibir saya,agar dia mengurungkan niatnya untuk mengucapkan sesuatu. Malu rasanya bila kehadiran kami menarik perhatian dan mengganggu pengunjung yang lain. Saya hanya memperhatikannya bahasa tubuhnya yang tampak gelisah .Tempat duduk saya dengan tempat duduk istri saya dibatasi oleh dua tempat duduk pengunjung lain. Beruntung tak begitu lama giliran kamipun dipanggil untuk mendapatkan surat rujukan tersebut.
Begitu keluar dari ruang praktek dokter,istri saya langsung menggandeng tangan saya dan menariknya agar lekas pergi dari tempat tersebut. Kemudian istri saya juga berkata agar motor saya dilukat (dibersihkan dengan air suci). Saya menghentikan langkah sambil menatapnya lalu menanyakan apa yang terjadi. Tapi istri saya tidak menanggapi pertanyaan saya hanya wajahnya tampak sedikit pucat malah seperti meringis dan berlalu meninggalkan saya. Saya terbengong lalu membuntutinya dari belakang. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu,mungkin karena ada banyak orang sehingga dia malu untuk menyampaikannya. Saya semakin penasaran dibuatnya, ah mungkin saja istri saya menahan rasa mules karena hendak buang air besar atau kepingin pipis kata saya dalam hati berusaha menghibur rasa penasaran saya.
Hari sebenarnya tidak begitu sore sebab matahari masih bersinar terang,kira-kira baru pukul 16.30 Wita. Lalu-lintaspun lumayan ramai yang lalu-lalang di depan praktek dokter BPJS tadi. Saya bergegas menstater sepeda motor lalu membonceng istri saya ke tempat praktek bidan.
Setelah selesai pemeriksaan di tempat praktek bidan kamipun pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang kami sempat berhenti untuk membeli setengah kilo gram kacang hijau, seperempat kilo gram gula pasir dan 5 saset susu kental manis. Pembaca yang budiman, tau kan saya membeli bahan-bahan itu untuk apa? Iya benar,kami hendak membuat bubur kacang hijau. Pada tahap kehamilan sekarang ini memang diperlukan banyak asupan gizi untuk tumbuh kembang janin di dalam kandungan. Kacang hijau katanya banyak mengandung gizi yang diperlukan oelh ibu hamil.
Sehabis makan malam sayapun membuat bubur kacang hijau, Saya menyiapkannya seorang diri sementara istri dan anak-anak saya menunggu di dalam kamar sambil menonton televisi. Wadow jenis kacang hijau ini berbeda dengan jenis yang biasa kami buat. Kacang hijau jenis ini akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk memasaknya. Ternyata benar kacang hijau ini lebih lama matangnya, setiap kali dicicipi selalu saja ada butiran yang masih keras. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 22.05 Wita. Tapi tak apalah saya akan tunggui dengan sabar kata saya dalam hati. Dan saya mengecilkan api kompornya agar bubur kacang hijau yang saya buat matangnya merata.
Belum matang benar tiba-tiba istri saya memanggil, sayapun bergegas menghampirinya dalam kamar. Saya menanyakan maksudnya memanggil saya,lalu istri saya menyuruh duduk disampingnya. Kemudian istri saya bercerita bahwa tadi sewaktu duduk di pinggir jalan depan praktek dokter BPJS,dia sedang muntah dan meludah beberapa kali ke tanah, sekonyong-konyong ada seorang nenek yang tua renta sudah berdiri kurang dari satu meter di hadapan istri saya. Wajahnya keriput sampai bergelawir saking tuanya. Rambutnya putih laksana perak, sebenarnya terikat tapi ada beberapa helai yang tampak sembrawut. Walaupun sudah sangat tua akan tetapi wajah dan penampilannya terlihat bersih. Nenek tersebut mengenakan kain kamben tampa baju sehingga susunya yang sudah bergelawir dibiarkan tampa penutup. Nenek itu hanya mengenakan handuk yang dibiarkan terjuntai di leher dan pundaknya.
Istri saya tertegun untuk beberapa saat, tubuh bungkuk nenek renta itu tampak susah payah melangkah mendekati istri saya yang melongo seperti orang bodoh. Tangan nenek itu meraih sepion motor saya dan tangan yang satunya lagi berusaha menggapai istri saya. Tentu saja istri saya sangat kaget,dia berkelejat sambil terpekik bangkit dari duduknya. Tiba-tiba nenek itu pun menghilang. Istri saya seperti orang linglung tengok kanan tengok kiri, pandangannya diarahkan disekitar tempat tersebut tapi nenek itu tidak ada. Tidak mungkin nenek itu begitu cepat meninggalkan tempat itu padahal untuk berjalan saja terasa susah.
Sepanjang jalan itu sebenarnya ramai oleh kendaraan yang lalu lalang dan matahari masih bersinar terang, tetapi karena saking takutnya melihat pengalaman seperti itu istri saya akhirnya buru-buru menyusul saya ke ruang tunggu dokter BPJS yang saya sebutkan tadi.
Saya tertegun mendengar cerita istri saya dan merenung untuk beberapa saat. Akhirnya saya bertanya,"apakah kamu jujur dan bisakah kata-katamu dipegang?" Saya memandang wajahnya lekat dan menatap matanya tajam,berharap dia hanya bercanda. Istri saya malah melotot,dengan nada tinggi dan berkata,"buat apa aku berbohong sama suami lagian aku ini sedang ngidam!" Dia memalingkan wajahnya, tampaknya ia sangat kesal kepada saya. Pantesan tadi di dokter dia tampak seperti orang ketakutan,jadi itu masalahnya gerutu saya dalam hati.
Mendengar cerita istri saya seperti itu hati saya merasa ciut juga,jangan-jangan nenek itu membuntuti kami pikiran penakut saya mulai menyerang. Saya bangkit dari bibir dipan lalu berjalan menuju dapur. Masa bodo,biar sudah matang biar belum pokoknya bubur kacang hijau ini saya angkat. Bubur kacang ijo itu kemudian saya pindahkan ke ruang makan. Dan benar ketika saya cicipi bubur kacang hijau itu belum matang dengan sempurna. Biarlah besok pagi saya masak kembali. Wadow, yang benar saja,kok kuduk saya terasa merinding sih? Malam itu kami memutuskan untuk cepat-cepat ke kamar tidur khawatir mahluk halus yang diceritakan istri saya itu mengikuti kami kerumah. (dasar penakut)
Pembaca yang budiman dari cerita istri saya dapat saya simpulkan bahwa mahluk halus itu bisa muncul bukan saja di tempat-tempat yang dianggap keramat dan sepi atau pada waktu malam yang sunyi, akan tetapi bisa juga muncul di tempat umum yang ramai dan pada waktu sore atau siang hari.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Tetap tenang dan berfikir positif. Berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan dan selalulah berkata dan berbuat yang positif.
Ok,Salam sehat dan berbahagia selalu dalalam lindungan Tuhan!!
Komentar
Posting Komentar